Peran Guru sebagai Agen Perubahan dalam Revolusi Industri 4.0






Dibutuhkan banyak keberanian
untuk melepaskan keadaan yang akrab dan tampaknya aman
guna merangkul hal baru.
Namun, tidak ada keamanan yang nyata dalam apa yang tidak lagi bermakna.
Ada keamanan lebih dalam petualangan yang menarik.
Sebab, dalam gerakan ada kehidupan dan dalam perubahan ada kekuatan.
– 
Alan Cohen



Itulah perubahan. Zona nyaman harus ditinggalkan demi meraih kehidupan yang lebih baik. Dunia yang tak berhenti berputar mengajarkan bahwa tak ada yang abadi selain perubahan. Perubahan memang membutuhkan masa untuk beradaptasi dan bertransisi. Namun, perubahan juga memberikan kejayaan yang diimpikan.
Dunia pendidikan tak lepas dari poros perubahan. Bahkan, banyak yang meyakini bahwa pendidikan menjadi salah satu unsur paling penting dalam menggerakkan perubahan. Sumber daya manusia (SDM) dari generasi ke generasi melewati proses pendidikan untuk menjadi pemegang kendali perubahan. Saat ini, dunia tengah dihadapkan pada revolusi industri 4.0.
Apa itu revolusi industri 4.0? Situs asikbelajar.com mengartikan bahwa revolusi industri 4.0 adalah proses kelanjutan perubahan tahap automatisasi pada revolusi industri 3.0 dalam kehidupan yang bertumpu kepada sistem jaringan internet. Tanpa kita sadari, revolusi industri 4.0 sudah dimulai sejak mencuatnya kasus Y2K (Year 2000). Saat itu, sistem komputer AS400 digeser oleh Platinum2000. 
Untuk lebih memahami revolusi industri 4.0 di lapangan, mari kita perhatikan beberapa kejadian berikut ini. Pertama, layanan konvensional mulai tergeser oleh maraknya layanan online. Saat ini, masyarakat lebih memilih moda kendaraan online dan pembelian tiket online dibanding layanan jasa serupa yang masih konvesional. Kedua, menurunnya perusahaan ritel besar lantaran digantikan oleh sistem online. Sebut saja Matahari Department Store yang telah resmi menutup beberapa gerainya lantaran angka penjualannya yang kian menyusut.
Ketiga, terbukanya kerja sama personal dengan sesama pengguna internet tanpa batas ruang dan waktu. Hal ini penulis rasakan sendiri. Sebagai travel blogger yang tinggal di kota kecil, tawaran kerja sama justru lebih banyak datang dari Jakarta. Keempat, adanya pergeseran etika sosial dalam pergaulan masyarakat yang kerap disebut phone snubbing (phubbing). Istilah ini diberikan untuk mereka yang lebih tertarik untuk fokus pada gawai daripada melipatkan diri dalam percakapan dengan orang di sekitarnya. Kelima, terbukanya kesempatan bagi kaum disabilitas untuk berkarya karena telah terbantu sistem serba-online akibat terciptanya mesin kecerdasan buatan di segala bidang.
Untuk menghadapi banyak perubahan dalam revolusi industri 4.0, dunia pendidikan dituntut turut pula dinamis mengikuti perkembangan zaman. Ada beberapa catatan penting yang perlu diketahui oleh sekolah bahwa pada masa mendatang para siswa akan menghadapi beberapa kenyataan berikut dalam dunia kerja. Pertama, sebagian besar perusahaan menggunakan teknologi untuk menjual produk mereka secara online. Kedua, semakin pentingnya kecakapan sosial dalam bekerja. Ketiga, banyak organisasi yang mengalami digital talent gap. Keempat, dibutuhkan banyak tenaga kerja yang memiliki kualitas keterampilan di bidang teknologi digital.
Lalu, apa peran guru? Guru adalah agen perubahan. Tak bisa dipungkiri bahwa guru harus meng-upgrade kompetensinya. Peserta didik yang dihadapi guru saat ini merupakan generasi milenial yang tidak asing lagi dengan dunia digital. Peserta didik sudah terbiasa dengan arus informasi dan teknologi. Tentu kita tidak berharap timbul istilah, peserta didik era industri 4.0, belajar dalam ruang industri 3.0, dan diajar oleh guru industri 2.0 atau bahkan 1.0.
Para guru dituntut menguasai keahlian serta mampu beradaptasi dengan teknologi baru dan tantangan global. Memang ini bukan perkara mudah. Kesenjangan penguasaan teknologi digital (digital talent gap) antara guru dan siswa menjadi tantangan tersendiri di beberapa daerah. Namun, seiring meningkatnya kesejahteraannya, guru diharapkan secara bertahap mampu menjawab tantangan tersebut.
Dengan memiliki keahlian serta mampu beradaptasi dengan teknologi baru, guru akan mampu menciptakan suasana pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan. Guru juga mampu mengelola kelas serta menerapkan model pembelajaran berbasis teknologi. Jika tidak, maka pendidkan di negeri kita akan terus tertinggal dibandingkan negara lain yang telah siap menghadapi perubahan besar ini. Kualitas guru harus sesuai dengan performa guru yang dibutuhkan dalam era industri 4.0.
Pada saat yang sama, sekolah juga dituntut mampu menguatkan karakter peserta didiknya agar dalam diri mereka tetap tertanam nilai-nilai luhur agama dan budaya. Pendidikan karakter yang telah digaungkan harus dipadukan dengan upaya meningkatkan kecerdasan dan skill peserta didik untuk menghadapi revolusi industri 4.0. Sungguh ini tugas mulia yang menuntut dedikasi tinggi insan pendidikan.
Dengan kemajuan teknologi infomasi saat ini, guru diminta tidak hanya bertugas untuk mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga harus mampu menanamkan nilai dasar pengembangan karakter peserta didik dalam pemanfaatan kemajuan teknologi informasi secara bijak. Di pundak guru, ada  tanggung jawab besar untuk mendidik siswa agar memiliki karakter mulia yang kuat sehingga tak terjerumus ke dalam dampak negatif teknologi.
Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy pernah menyatakan bahwa bidang pendidikan perlu merevisi kurikulum dengan menambahkan lima kompetensi dalam memasuki era revolusi industri 4.0. Kelima kompetensi tersebut adalah sebagai berikut.
1.    Peserta didik diharapkan memiliki kemampuan berpikir kritis.
2.    Peserta didik diharapkan memiliki kreativitas dan memiliki kemampuan yang inovatif.
3.    Peserta didik diharapkan memiliki kemampuan dan keterampilan berkomunikasi yang baik.
4.    Peserta didik diharapkan memiliki kemampuan bekerja sama dan berkolaborasi.
5.    Peserta didik diharapkan memiliki rasa percaya diri yang tinggi.
Selain itu, agar lulusan bisa kompetitif, kurikulum perlu orientasi baru. Dengan adanya era revolusi industri 4.0, tidak hanya cukup literasi lama (membaca, menulis, dan Matematika) sebagai modal dasar untuk berkiprah di masyarakat. Ada tiga kelompok atau jenis literasi lain yang sangat identik dengan era revolusi industri 4.0, yakni:
1.    literasi data: kemampuan untuk membaca, analisis, dan menggunakan informasi (big data) di dunia digital,
2.    literasi teknologi: memahami cara kerja mesin, aplikasi teknologi (coding, artificial intelligence, and engineering principles), serta
3.    literasi manusia: kemanusiaan, komunikasi, dan desain.
Menjawab berbagai tantangan tersebut, perlu formula yang tepat agar para guru mampu menjalankan tugas mulianya. Berikut ini adalah peran guru sebagai penggerak perubahan menuju Indonesia yang cerdas dan berkarakter dalam revolusi industri 4.0.

1. Guru sebagai Sumber Belajar
Peran guru sebagai sumber belajar merupakan peran yang sangat penting. Peran ini berkaitan dengan penguasaan materi pelajaran. Seorang guru dikatakan profesional jika menguasai materi pelajaran dengan baik sehingga benar-benar mampu diandalkan oleh peserta didiknya. Tentu akan lebih baik lagi jika guru tersebut menguasai teknologi digital dan pemahaman yang utuh tentang karakter.

2. Guru sebagai Fasilitator
Sebagai fasilitator, guru berperan dalam pemberian pelayanan untuk memudahkan siswa dalam kegiatan proses pembelajaran. Oleh sebab itu, guru harus mampu memfasilitasi peserta didiknya. Misalnya, guru memikirkan  cara yang harus dilakukan agar siswa supaya mudah mempelajari bahan pelajaran sehingga tujuan belajar tercapai secara optimal. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan teknologi dan informasi terbaru. Inilah hakikat peran fasilitator dalam proses pembelajaran.

3. Guru sebagai Pengelola
Sebagai pengelola pembelajaran, guru berperan dalam menciptakan iklim belajar yang memungkinkan siswa dapat belajar secara nyaman. Menurut Ivor K. Devais, salah satu kecenderungan yang sering terjadi adalah guru melupakan bahwa hakikat pembelajaran adalah proses belajar siswa, bukan proses pengajaran guru. Guru diharapkan menerapkan pola pembelajaran yang terfokus pada aktivitas siswa. Dalam melaksanakan perannya ini, guru memberi peluang siswa lebih mandiri, kreatif, bekerja sama, dan ulet menyelesaikan tugas-tugasnya.
4. Guru sebagai Demonstrator
Yang dimaksud dengan peran guru sebagai demonstrator adalah peran untuk mempertunjukkan kepada siswa segala sesuatu yang dapat membuat siswa lebih mengerti dan memahami setiap pesan yang disampaikan. Ada dua konteks guru sebagai demonstrator. Pertama, guru harus menunjukan sikap-sikap yang terpuji atau karakter yang mulia. Guru menjadi contoh yang baik agar para siswa memiliki role model yang baik pula untuk menerapkan karakter yang mulia. Kedua, guru harus dapat menunjukkan bagaimana caranya agar setiap materi pelajaran bisa lebih dipahami dan dihayati oleh setiap siswa.
5. Guru sebagai Pembimbing
Siswa adalah individu yang unik. Keunikan itu bisa dilihat dari adanya setiap perbedaan. Artinya, tidak ada dua individu yang sama. Perbedaan itulah yang menuntut guru harus berperan sebagai pembimbing. Membimbing siswa utuk menemukan potensi mereka sebagai bekal. Membimbing siswa agar dapat mencapai dan melaksanakan tugas-tugas perkembangan mereka. Tujuan utamanya adalah agar para peserta didik dapat tumbuh dan berkembang sebagai manusia ideal yang menjadi harapan setiap orang tua dan masyarakat.
6. Guru sebagai Motivator
Motivasi sangat erat hubungannya dengan kebutuhan. Sebab, motivasi memang muncul karena kebutuhan. Proses pembelajaran akan berhasil jika siswa mempunyai motivasi dalam belajar. Oleh sebab itu, guru dituntut mampu menemukan motivasi belajar siswa. Untuk memperoleh hasil belajar yang optimal, guru harus kreatif membangkitkan motivasi belajar siswa.
7. Guru sebagai Evaluator
Guru berperan untuk mengumpulkan data tentang keberhasilan pembelajaran yang telah dilakukan. Fungsinya untuk menentukan keberhasilan siswa dalam menyerap materi kurikulum. Selain itu, penilaian berfungsi untuk menentukan keberhasilan guru dalam melaksanakan kegiatan yang diprogramkan. Berkaitan dengan pendidikan karakter, guru harus jeli dalam menilai sikap siswa dengan beragam instrument yang telah dimiliki.
Sementara itu, pihak sekolah selaku pemilik kebijakan dirasa penting untuk memperhatikan hal-hal berikut ini. Di antaranya, reorientasi kurikulum, literasi baru (big data, teknologi/coding, humanities, peningkatan kegiatan ekstrakurikuler untuk pengembangan kepemimpinan dan bekerja dalam tim, entrepreneurship, serta penerapan hybrid/blended learning. Blended learning adalah sebuah kemudahan pembelajaran yang menggabungkan berbagai cara penyampaian, model pengajaran, dan gaya pembelajaran, memperkenalkan berbagai pilihan media dialog antara fasilitator dengan orang yang mendapat pengajaran. Blended learning juga sebagai sebuah kombinasi antara pengajaran langsung (face-to-face) dan pengajaran online.
Jack Ma, CEO Alibaba Group, dalam pertemuan tahunan World Economic Forum 2018 menyatakan bahwa pendidikan adalah tantangan besar abad ini. Jika tidak mengubah cara mendidik dan belajar-mengajar, maka 30 tahun mendatang guru akan mengalami kesulitan besar. Pendidikan dan pembelajaran yang sarat dengan muatan pengetahuan mengesampingkan muatan sikap dan keterampilan sebagaimana saat ini terimplementasi akan menghasilkan peserta didik yang tidak mampu berkompetisi dengan mesin. Oleh karena itu, guru harus mengurangi dominasi pengetahuan dalam pembelajaran dengan harapan peserta didik mampu mengungguli kecerdasan mesin. Pendidikan yang diimbangi dengan karakter dan literasi menjadikan peserta didik akan sangat bijak dalam menggunakan mesin untuk kemaslahatan masyarakat.
Sungguh semua ini bukan tugas yang mudah bagi guru. Namun, ini juga bukan hal yang mustahil untuk diwujudkan. Demi sebuah cita-cita mulia, guru patut mengerahkan segala upaya agar perjuangannya tak sia-sia. Kerja keras dan dedikasi guru yang didukung oleh seluruh warga sekolah dan pengambil kebijakan di bidang pendidikan tentu menjadi upaya yang patut diapreasiasi. Indonesia tentu akan lebih baik jika dunia pendidikan juga bertransformasi ke arah yang lebih baik.

*Mas Edy Masrur, guru SMAN 1 Bojonegoro, aktif menulis sebagai travel blogger di www.alamasedy.com, dapat dihubungi melalui email masedymasedy@gmail.com atau WA 081239659144.





Daftar Pustaka

Ahmad, I. 2018. Pendidikan Tinggi 4.0 yang Mampu Meningkatkan Daya Saing Bangsa. Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan. Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Makassar, 16 Februari 2018. Bahan Presentasi.


https://asikbelajar.com/catatan-untuk-dunia-pendidikan-di-era-revolusi-industri-4-0/



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Juknis PPDB SMA/SMK/SLB Jatim 2022/2023

Kolaborasi Wujudkan Budaya Positif

STAN Buka Pendaftaran Mahasiswa Baru